NEGARA MISKIN TIDAK SELALU NEGARA MUDA

Kemiskinan hanyalah menunjukan pada rendahnya tingkatan pendapatan perkapita Negara. Istilah ini tidak ada hubungannya dengan budaya bangsa tersebut. Negara terbelakang adalah istilah statis seperti istilah “tidak berkembang”. Dengan demikian kata “miskin” dan “kurang berkembang” dapat saling dipertukarkan.

Tetapi ahli ekonomi tertentu seperti Meier dan Baldwin serta Barbara Ward lebih suka menggunakan istilah Negara miskin dibandingkan Negara kurang berkembang. Barbara Ward mengatakan ; ungkapan kurang berkembang tidak begitu memuaskan, karena ia mengelompokkan secara bersama berbagai jenis kekurangberkembangan.

Padahal kemiskinan hanya memusatkan diri pada pendapatan nyata perkapita yang rendah. Oleh karena itu Prof. Myrdal lebih suka menggunakan istilah yang lebih dinamis dan luas “kurang berkembang (Underdevelopment)”. Ia berpendapat, penggunaan konsep Negara kurang berkembang mengandung pertimbangan nilai bahwa Negara yang disebut dengan kualitas itu selayaknya mengalami perkembangan. Dalam arti inilah rakyat di Negara miskin menggunakan istilah tersebut dan memaksakan penggunaan istilah tersebut kepada rakyat di Negara lebih kaya.

Dalam literature ekonomi baru-baru ini muncul satu istilah yang lebih terhormat yaitu “Negara sedang berkembang (the developing countries)”. Ia digunakan sebagai pengganti istilah Negara kurang berkembang. Tetapi Prof Bauer menganggap istilah kurang berkembang, sedang berkembang, dan sedikit berkembang adalah Euphemisme belaka. Tapi untuk kata kurang berkembang dan sedang berkembang adalah euphemisme yang tidak tepat : kurang berkembang adalah istilah yang terang-terangan memberi kesan bahwa keadaan yang digambarkan tidak normal, tercela, dan barangkali sulit diperbaiki. Sedang untuk istilah sedang berkembang mengandung beberapa kontradiksi, misalnya ia seolah mengacu pada stagnasi atau kemunduran dunia yang padahal sedang berkembang. Menurut dia Miskin atau terbelakang secara material adalah ungkapan yang paling tepat, keduanya menggambarkan keadaan yang berfungsi sebagai dasar penggolongan; kedua istilah itu mengungkapkan fakta bahwa pembedaan tersebut hanyalah masalah derajat semata-mata dan keduanya bersifat netral dalam arti bahwa keduanya tidak memberikan kesan keadaan yang dilukiskan adalah abnormal dan tercela. Akan tetapi ia, Prof Bauer, pada umumnya menggunakan istilah “kurang berkembang” yang telah meluas sebagai sinonim untuk miskin atau terbelakang secara teknis atau material.

Berbagai Kriteria tentang “Keterbelakangan (Underdevelopment)”

Untuk memberikan definisi yang tepat tentang keterbelakangan memang tidaklah mudah. Keterbelakangan dapat didefinisikan dalam berbagai cara, misalnya dengan melihat; terjadinya kemiskinan, kebodohan atau wabah; maldistribusi atau disparitas pendapatan nasional; lemahnya administrasi (Goog Governance); tiada organisasi social (NGO atau Civil Society). Jadi tidak ada satupun definisi menyeluruh yang mencakup semua ciri dari Negara terbelakang.

Simon Kuznet memberikan tiga definisi tentang Keterbelakangan, yang pertama; keterbelakangan berarti gagal memanfaatkan secara penuh potensi produktif dengan menggunakan tingkat pengetahuan teknologi yang ada atau suatu kegagalan yang bersumber perlawanan lembaga-lembaga social (NGO). Kedua, ia dapat berarti keterbelakangan dalam kinerja (performance) ekonomi dibandingkan dengan beberapa Negara maju pada masanya. Ketiga, ia dapat berarti kemiskinan ekonomi, dalam arti kegagalan dalam menyediakan biaya hidup yang memadai dan harta benda yang memuaskan sebagian terbesar penduduk.

Masalah Negara terbelakang dalam pembicaraan saat ini mencerminkan unsure-unsur ketiga definisi tersebut; pada umumnya keakutannya timbul timbul karena kemiskinan harta benda, sebagaimana ditekankan pada definisi yang ketiga; hal itu dipertajam lagi oleh kenyataan ketertinggalan mereka dibandingkan dengan Negara-negara lain yang ekonominya telah maju; dan biasanya hal tersebut dianggap sebagai masalah social yang timbuk karena kegagalan lembaga-lembaga social, bukan karena kelangkaan pengetahuan teknologi.

Secara garis besar ada Beberapa criteria keterbelakangan, yaitu sebagai berikut;

1. Rasio Penduduk terhadap wilayah tanah.

2. Perbandingan Output Industri terhadap keseluruhan Output.

3. Rasio Modal terhadap populasi per kepala.

4. Tingkat Kemiskinan.

5. Tingkat Pendapatan Perkapita (rendah).

Kesimpulan, Negara Terbelakang adalah suatu Negara yang mempunyai prospek potensial bagus untuk menggunakan lebih banyak tenaga kerja, modal, atau sumber daya alam yang tersedia untuk menunjang penduduknya yang ada saat ini pada standar hidup yang cukup tinggi. Jika pendapatan perkapita sudah cukup tinggi maka sumber-daya2 tersebut digunakan untuk mempertahan tingkat pendapatan perkapita tersebut agar tidak turun atau rendah. Dari kesimpulan tentang definisi Negara terbelakang tersebut, maka Kriteria dasarnya menjadi; Apakah Negara itu mempunyai prospek potensial yang tinggi untuk meningkatkan pendapatan perkapita atau untuk mempertahankannya di dalam menghadapi penduduk yang semakin meningkat. Kriteria ini dapat digunakan atau diterapkan secara Universal, ia cocok untuk Negara terbelakang tidak peduli apakah ia mempunyai penduduk atau modal yang berlimpah2 atau tidak, atau perekonomian bertumpu pada pertanian ataukah industri. Kriteria ini juga menekankan arti penting pendapatan perkapita dan potensi pembangunan sebagai dua faktor penentu dalam pembangunan ekonomi.

One thought on “NEGARA MISKIN TIDAK SELALU NEGARA MUDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s