AMARTYA SEN; Matematika dan Filsafat Kemiskinan

Matematika dan Filsafat Kemiskinan <!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Pada abad ke-7, Ali bin Abi Thalib ra menyatakan, kurang lebih, Kemiskinan bersahabat dengan kekafiran. Ungkapan tentang hubungan antara keadaan ekonomi dan keadaan jiwa itu sungguh mengejutkan. Apakah kualitas hidup duniawi memang begitu berpengaruh pada kualitas (harapan) hidup ukhrawi?

Pada akhir abad ke-20, seorang pemikir ekonomi asal India menelurkan teori yang nyaris serupa, tentang hubungan keadaan ekonomi dengan keadaan nonekonomi tersebut. Namun, relasi tersebut sedikit berbeda. Pemikir itu, Amartya Sen, menyatakan bahwa kemiskinan berhubungan langsung dengan demokrasi.

Kita tahu, demokrasi adalah semacam kualitas kemanusiaan yang diidealkan pada masyarakat modern. Artinya, demokrasi sukar diukur dengan perhitungan ekonomis. Kok, bisa, Sen menyatakan bahwa sistem nondemokratis menghambat pemberantasan kemiskinan? Lebih jelas lagi, Sen mengaitkan kelaparan dengan sistem sosial yang berlaku. Ia menentang anggapan umum bahwa kelaparan terjadi karena kelangkaan makanan. Wabah kelaparan, ungkap Sen, tak pernah terjadi di masyarakat yang demokratis (Poverty and Famines: An Essay on Entitlement and Deprivation, 1981).

Sen melontarkan teori-teori itu bukan sekadar sebagai filsafat ekonomi, tapi didukung oleh argumen-argumen matematis yang kukuh. Ia, misalnya, dianggap berjasa karena memberi persamaan/rumus matematis yang jadi dasar bagi indeks kemiskinan yang kini lazim digunakan dalam studi pembangunan. Kegigihannya berargumen, tergambar dari gagasannya tentang santai. Baginya, santai adalah ketika ia banyak membaca dan banyak berdebat. Bukan debat kusir, tentu, tapi debat mencari “yang benar.

Namun, dari manakah kekukuhannya untuk memecahkan persoalan kemiskinan? Mengapakah, sebagai seorang pakar ekonomi yang sangat matematis, ia begitu terlibat dalam persoalan ketakadilan dan kebebasan? Salah satu sebab, Sen bukanlah ekonom yang hanya meneruskan Adam Smith atau Karl Marx, tapi malah menimba ilham dari sastrawan India pemenang Nobel, Rabindranath Tagore.

Pengaruh Tagore tampak saat ia menulis artikel panjang Tagore and His India (2001). Sen menulis, Bagi Tagore, amatlah utama jika seseorang mampu berpenghidupan, dan berpikir, dalam suasana merdeka. Sen memang punya hubungan dekat dengan Tagore. Nama Amartya diberikan langsung oleh Tagore. Penyair besar itu memang teman keluarga, sahabat ayah dan ibu Sen. Ibu Sen kerap jadi penari dalam teater karya Tagore. Wajar saja jika Sen kecil belajar di sekolah alam Tagore, Santiniketan.

Pada umur 9 tahun (1943), Sen menyaksikan wabah kelaparan di Bengal. Tiga juta orang mati oleh kelaparan itu. Sen mengenang, Waktu itu, ada seorang lelaki bertingkah-laku aneh datang ke sekolah kami. Beberapa anak yang nakal menggoda lelaki aneh itu. Beberapa dari kami merasa tak enak, dan ingin menolong lelaki aneh itu. Setelah kami bertanya, tahulah kami, ternyata lelaki itu belum makan 40 hari! Dan kemudian, datang lagi seorang, 10, bahkan rasanya 100.000 orang melewati sekolah kami, menuju Kalkuta, berharap mendapat sedekah untuk makan.

Kemiskinan yang menggigit, kelaparan yang begitu akut, menghantam kesadaran Sen kecil. Barangkali seperti yang dibayangkan dalam kalimat terkenal Ali bin Abi Thalib ra: Kalau kemiskinan berupa manusia, akan kupenggal ia! Seperti Sidharta saat masih di istana sebelum jadi Buddha, hingga saat itu, Sen hidup dalam kenyamanan rumah orangtuanya tanpa kenal apa makna “penderitaan. Ketika kemiskinan dalam bentuk bencana kelaparan itu tampak di hadapan, ia tak pernah lupa. Ia selalu mencari-cari tahu, mengapa bisa terjadi keadaan subhuman (tak manusiawi) itu? Mengapa ketakadilan bisa demikian perkasa?

Sejak awal, ia menyadari bahwa ternyata kelaparan bergantung pada kelas sosial-ekonomi. Kelaparan hanya terjadi pada golongan miskin belaka. Ia, dan keluarganya, sama sekali tak menyadari adanya wabah kelaparan itu. Ia menggambarkan keadaan ini dalam kalimat yang khas dalam pembukaan buku penelitiannya terhadap wabah kelaparan di dataran Sahel, Ethiopia, dan Cina: “Kelaparan adalah sifat dari ketakmampuan seseorang untuk memiliki cukup makanan. Kelaparan bukanlah ketiadaan makanan.

Penyebab sebagian orang tak memiliki cukup makanan, dalam penelitiannya, adalah sistem sosial yang tak adil. Orang-orang dilaparkan, orang-orang dimiskinkan, oleh sistem yang tak adil. Sebelum melakukan penelitian itu, rasa keadilannya dipertajam oleh pendidikannya di universitas-universitas terkemuka di India dan Inggris. Pada 1953, ia pindah dari Kalkuta ke Cambridge, belajar ekonomi murni di Trinity Coledge yang ia tuntaskan dalam dua tahun.

Jika kuliah ekonominya di India cenderung sangat matematis, kuliah ekonomi di Cambridge cenderung filosofis. Di situ, ia kuliah bareng dengan, antara lain, Mahbub al-Haq. Di Indonesia, Mahbub dikenal di kalangan akademis pada pertengahan 1980-an, lewat bukunya (terjemahan), Menyingkap Tirai Kemiskinan (yang, antara lain, dikutip oleh Jalaludin Rahmat dalam bukunya, Islam Alternatif). Menurut Amartya, sumbangsih Mahbub amatlah besar dalam membuka tabir hubungan antara kelaparan dengan ketakadilan politik. Mereka memang bersahabat, dalam bersikap maupun dalam berdebat.

Ketika akan melanjutkan ke tingkat Phd., Sen harus memenuhi syarat telah melakukan penelitian selama setidaknya tiga tahun. Ia kembali ke Kalkuta. Ia dibimbing oleh A.K. Dasgupta, yang ia sebut sebagai salah seorang ahli metodologi ekonomi terbaik. “Dengan beliau, aku sering bercakap-cakap dan selalu tercerahkan—mengenai segala yang ada di bawah mentari ini (dan, kadang, mengenai tesis saya juga). Di sana, ia juga terpilih oleh universitas untuk membangun dan menjadi ketua jurusan ekonomi. “Karena usiaku belum sampai 23, kata Sen, tentu saja, dan bisa dipahami, muncul gelombang protes.

Tak lama, ia kembali ke Cambridge, karena mendapat beasiswa khusus. Pada dasarnya, dengan hadiah beasiswa itu, Aku boleh melakukan apa saja, selama empat tahun Apa yang ia lakukan? Ia belajar filsafat. Di bidang ini, ia sempat bekerjasama dengan filsuf-filsuf terkemuka seperti John Rawls dan Isaiah Berlin.

Keindahan matematika dan filsafat menajamkan ilmu ekonomi Sen. Manusia bukan sekadar binatang ekonomi. Lebih dari itu, manusia adalah makhluk bebas. Kebebasan itu perlu dikongkretkan dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik. Sen membaktikan hidupnya untuk mengembangkan teori-teori ekonomi penting dalam upaya itu. Pada 14 Oktober 1998, saat Indonesia sedang babak-belur dihajar krisis ekonomi, Sen dianugerahi Nobel untuk Ekonomi

.Al Quran punya ayat tentang ide kebebasan: (Tuhan) Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Quraisy: 4). Di situ ada gagasan (1) merdeka dari rasa lapar, dan (2) merdeka dari rasa takut. Seberapa banyakkah ekonom Muslim yang bisa melahirkan pemikiran sekuat Sen dalam masalah kemerdekaan manusia? Haruskah kita hanya berpuas pada pepatah-pepatah Ali di atas?

2 thoughts on “AMARTYA SEN; Matematika dan Filsafat Kemiskinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s