Sosialisme dan Islam

MENGENAL LEBIH DEKAT SOSIALISME

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan” (QS Ali Imran 83)


“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS Ali Imran 85)

I. Pengertian Sosialisme

Menurut Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, sosialisme mempunyai erti-erti sebagai berikut:

  1. semua teori-teori ekonomi dan politik yang membela kepemilikan (ownership) kolektif atau kepemilikan pemerintah, dan pengaturan dari alat-alat produksi dan pengagihan barang.

  2. sebuah sistem masyarakat atau kehidupan berkelompok yang di dalamnya tidak ada kepemilikan (property) peribadi.

sebuah sistem atau keadaan masyarakat yang di dalamnya alat-alat produksi dikuasai dan dikawal oleh negara.

  1. sebuah fasa masyarakat yang di dalam teori transisi Marxist berada di antara kapitalisme dan komunisme, dan yang dicirikan oleh distribusi barang yang tidak merata dan pengupahan berdasarkan jumlah kerja yang dilakukan.

Sedangkan Columbia Electronic Encyclopedia menyebutkan bahwa sosialisme adalah sebuah istilah umum untuk teori politik dan ekonomi yang membela sebuah sistem kepemilikan bersama atau pemerintah, dan pengurusan alat-alat produksi dan pengagihan barang. Karena sifat kolektif ini, sosialisme biasanya dipertentangkan dengan doktrin kesucian (sanctity) kepemilikan peribadi yang merupakan ciri utama dari kapitalisme. Kalau kapitalisme sangat menekankan persaingan dan keuntungan, maka sosialisme menganjurkan kerja sama dan pelayanan sosial.

Dalam pengertian yang lebih luas, sosialisme sering digunakan untuk menggambarkan secara lepas teori-teori ekonomi dari mulai teori yang mengatakan bahwa hanya hal-hal yang bersangkut kepentingan umum dan sumber daya alam yang harus dikuasai negara, sampai dengan teori yang menyebutkan bahwa negara harus bertanggungjawab kepada semua permasalahan ekonomi.

Gustav LeBon dalam bukunya The Psychology of Socialism (1899) menyebutkan bahawa sebuah evolusi (perubahan) yang terjadi dalam suatu masyarakat haruslah ditinjau dari 3 sisi: faktor politik, faktor ekonomi dan faktor psikologi. Karena itu, dalam melihat sosialisme, LeBon berpendapat bahwa kita harus melihatnya sebagai konsep politik, konsep ekonomi, konsep falsafah dan sebagai sebuah kepercayaan/keyakinan (belief). Bahkan dalam bagian ke-2 dari bukunya ini, LeBon menulis tentang sosialisme sebagai sebuah kepercayaan yang salah satu babnya berjudul Evolusi Sosialisme Menuju Sebuah Bentuk Keagamaan (religious form).

Jelaslah bagi kita bahwa sosialisme bukanlah semata hanya sebuah teori ekonomi semata. Ia adalah sebuah jalan hidup yang meliputi berbagai aspek, dengan aspek politik dan ekonomi sebagai ujung tombaknya. Ia adalah sesuatu yang diyakini penganutnya sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, bahkan dengan revolusi (marxisme), untuk membawa suatu perubahan dalam masyarakat. Tidaklah berlebihan kalau kita mengkategorikannya sebagai sebuah –dalam istilah Islam-dien.

II. Sejarah awal Sosialisme

Sosialisme muncul di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 sebagai reaksi dari perubahan ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri. Revolusi industri ini memang memberikan kelebihan buat para pemilik fabrik pada saat itu, tetapi dilain pihak para pekerja justeru malah semakin miskin. Semakin menyebar idea sistem industri kapitalis ini, maka reaksi dalam bentuk pemikiran-pemikiran sosialis pun semakin meningkat. Meskipun banyak pemikir sebelumnya yang juga menyampaikan idea-idea yang serupa dengan sosialisme, pemikir pertama yang mungkin dapat dijuluki sosialis adalah François Noël Babeuf yang pemikiran-pemikirannya muncul selama revolusi Prancis. Dia sangat memperjuangkan doktrin pertarungan kelas antara kaum modal dan buruh yang di kemudian hari diperjuangkan dengan lebih keras oleh Karl Marx.

Para pemikir sosialis setelah Babeuf ini kemudian ternyata lebih moderat dan mereka biasanya dijuluki kaum “utopian socialists”, seperti de Saint-Simon, Charles Fourier, dan Robert Owen. Mereka lebih moderat dalam erti tidak terlalu mengentengahkan pertentangan kelas dan perjuangan kekerasan tetapi mengetengahkan kerjasama daripada persaingan. Saint-Simon berpendapat bahawa negara yang harus mengatur produksi dan pengagihan, sedangkan Fourier dan Owen lebih mempercayai bahwa yang harus berperanan besar adalah komuniti kolektif kecil. Karena itu kemudian muncul perkampungan komuniti (communistic settlements) yang didirikan berdasarkan konsep yang terakhir ini di beberapa tempat di Eropah dan Amerika Syarikat, seperti New Harmony (Indiana) dan Brook Farm (Massachussets)[1].Setelah kaum utopian ini, kemudian muncul para pemikir yang idea-ideanya lebih ke arah politik, misalnya Louis Blanc. Blanc sendiri kemudian menjadi anggota pemerintahan provisional Prancis di tahun 1848. Sebaliknya juga muncul para anarkis seperti Pierre Joseph Proudhon dan radikalis (insurrectionist) Auhuste Blanqui yang juga sangat berpengaruh di antara kaum sosialis di awal dan pertengahan abad ke-19.

Pada tahun 1840-an, istilah komunisme mulai muncul untuk menyebut sayap kiri yang militan dari faham sosialisme. Istilah ini biasanya dirujukkan kepada tulisan Etiene Cabet dengan teori-teorinya tentang kepemilikan umum. Istilah ini kemudian digunakan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels untuk menggambarkan pergerakan yang membela perjuangan kelas dan mengaruskan revolusi untuk menciptakan sebuah masyarakat kerjasama (society of cooperation). Karl Marx (dalam bahasa Inggeris, Karl ialah Charlie) adalah anak dari pasangan Hirschel and Henrietta Marx. Ia lahir di Trier, Germany, tahun 1818. Hirschel Marx adalah seorang pengacara dan kerana gerakan anti-Semitik kemudian meninggalkan agama Yahudinya ketika Karl masih kecil. Meskipun majoriti penduduk Trier adalah katolik, Marx memutuskan untuk menjadi seorang protestan dan mengganti namanya dari Hirschel menjadi Heinrich

III. Jenis-jenis Sosialisme: Revolusionis dan Evolusionis (Gradualis)


Secara umum, sosialisme terbagi 2:

Di satu sisi adalah mereka yang berpendapat tentang pentingnya perjuangan kelas dan keharusan melakukan revolusi (revolusionis), dan di sisi lain adalah mereka yang berfaham bahwa cita-cita sosialisme ini hendaklah diwujudkan melalui cara-cara yang lebih berperingkat dan tanpa kekerasan. Revolusionis diwakili oleh Marxism. Di dalam karya-karyanya, Marx menyerang kaum sosialis sebagai para pemimpi utopia teoritis yang mengabaikan pentingnya perjuangan revolusi untuk mendirikan doktrin-doktrinnya. Pada tahun 1848, Marx dan Engels menulis Communist Manifesto yang di dalamnya mereka menuliskan prinsip-prinsip yang disebut Marx sebagai scientific socialism. Di sini Marx mengajukan kemestian adanya konflik revolusioner antara modal dan buruh.

Sejalan dengan Marxisme, beberapa jenis sosialisme lainnya yang lebih memili jalan perjuangan berperingkat juga muncul, misalnya sosialisme kristian dengan tokohnya Frederick Denison Maurice dan Carles Kingsley. Juga muncul sosialisme yang perjuangannya diwadahi dalam bentuk parti. Di tahun 1870-an sudah bermunculan parti-parti sosialis di banyak negara Eropah. Di akhir abad 19, kaum revolusionis berada di atas angin kerana keadaan buruh semakin baik dan tidak terlihatnya tanda-tanda bahawa kapitalisme akan mati. Puncaknya mungkin adalah di Rusia ketika Parti Sosial Demokratis Buruh Rusia berpecah dalam Bolshevisme (revolusionis) dan Menshevisme (gradualis/peningkatan). Para pendukung bolshevisme inilah yang kemudian mengambil alih kekuasaan melalui Revolusi Rusia di tahun1917 dan mereka kemudian membentuk Partai Komunis Uni Soviet.

IV. Sosialisme dan Islam

Islam sejalan dengan komunisme?

Salah satu isu yang dilontarkan kaum sosialis di negara-negara majoriti muslim adalah bahawa Islam sejalan dengan sosialisme/komunisme. Hasan Raid misalnya dalam tulisannya yang disampaikan pada pertemuan yang diselenggarakan Forum Mahasiswa Ciputat tanggal 13 Juli 2000 di Jakarta, menyebutkan bahwa Islam dan komunisme/sosialisme itu harus bergandengan tangan.

Paling tidak ada 3 alasan yang dikemukakannya:


a. Islam memerangi kapitalisme

Pernyataan mereka adalah bahawa Islam cukup jelas menentang adanya manusia mengeksploitasi manusia lain sebagaimana tercermin dari surah Al An’am:145 atau QS Al Baqarah:188, atau yang lebih tegas lagi adalah ayat 1-4 surat Al Humazah (yang jelas-jelas mengutuk orang-orang yang menumpuk-numpuk harta).

Dan orang-orang yang menumpuk harta tersebut ialah kaum kapitalis. Mengenai Islam menentang kapitalisme ini telah dikemukakan dengan jelas oleh HOS Tjokroaminoto, melalalui bukunya yang berjudul “Islam dan Sosialisme”.

Bukunya itu ditulis pada tahun 1924 di Mataram. Ini diantaranya yang dikatakan HOS Tjokroaminoto:

Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan orang lain, tidak memberikan keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu,–semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan ‘meerwaarde’ (nilai lebih) adalah dilarang sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan memakan ‘riba’ belaka. Dengan begitu maka nyatalah, agama Islam memerangi kapitalisme sampai pada ‘akarnya’, membunuh kapitalisme mulai darui ‘benihnya’, oleh karena pertama-tama sekali yang menjadi dasarnya kapitalisme, iaitu memakan keuntungan ‘meerwaarde’ sepanjang fahamnya Karl Marx, dan ‘memakan riba’ sepanjang fahamnya Islam” (Penerbit Bulan Bintang, Jkt, 1954, hal: 17).

b. Menegakkan Sosialisme

Ini kerana Islam hendak menegakkan keadilan sosial misalnya dalam
surat Al Qashash ayat 5-6. Di sana dengan gamblang dikemukakan janji Tuhan yang akan menjadikan kaum tertindas dan miskin (
mustadafhin atau dhuafa) sebagai pemimpin di bumi dan mewarisi bumi sehingga tidak ada tempat lagi bagi kaum mustakbirin (para diktator, angkuh dan kaya) untuk melakukan penindasan dan penghisapan terhadap kaum mustadafhin.

Keadilan sosial tegak. Tentang Islam akan menegakkan sosialisme, juga telah dikemukakan H. Agus Salim dalam Kongres Nasional VI SI, bulan Oktober 1921 di Surabaia. H. Agus Salim antara lain mengatakan:

Nabi Muhammad Saw sudah mengajarkan sosialisme, sejak 1200 tahun sebelum Karl Marx” (Sekneg: G 30-S Pemberontakan PKI”, 1994, hal: 11).


Kemudian menurut tulisan Hasan Raid ini, masyarakat yang berkeadilan sosial atau masyarakat sosialis adalah masyarakat transisi menuju masyarakat
Tauhidik, “umat yang satu” seperti yang dikemukakan surat Al Mukminun ayat 52.

Mengenai masyarakat Tauhidik ini, Asghar Ali Engineer melalui bukunya “Islam dan

Mengenai masyarakat Tauhidik ini, Asghar Ali Engineer melalui bukunya “Islam dan Pembebasan” mengemukakan bahawa Tauhid tidak hanya menyatakan keesaan Allah, tetapi juga kesatuan manusia dalam semua hal. Suatu masyarakat jami’-i tawhid yang Islamik, tidak akan membenarkan diskriminasi dalam bentuk apapun, tidak kira itu didasarkan pada ras(keturunan), agama, kasta maupun kelas.

Masyarakat tauhidik yang sejati menjamin kesatuan sempurna diantara manusia dan untuk mencapai ini, perlu untuk membentuk masyarakat tanpa kelas. Keesaan Allah mengharuskan kesatuan masyarakat dengan sempurna dan masyarakat demikian tidak menerima perbezaan dalam bentuk apapun, bahkan perbezaan kelas sekalipun. Tidak akan terjadi solidariti iman sejati, kecuali segala bentuk perbezaan ras(keturunan), bangsa, kasta, dan kelas dihilangkan. Pembahagian kelas menegaskan secara tidak langsung dominasi yang kuat atas yang lemah dan dominasi ini merupakan pengingkaran terhadap pembentukan masyarakat yang adil (hal: 94).

c. Pertentangan Kelas dan Perjuangan Kelas

Al Qur’an menyebutkan tentang pertentangan dan perjuangan kelas, misalnya surah Al Mukminun (53), Al Qashash (5-6) dan Ar Ra’du (11). Ketiga surah-surah di atas mengandungi petunjuk bahwa masyarakat manusia tidak satu lagi, tetapi telah terpecah-pecah dalam yang menindas dan yang tertindas. Tuhan dalam hal ini terang-terangan memihak kepada kaum yang tertindas.

Itu tercermin dari janji Tuhan dalam Al Qashash (5-6). Melalui surat Ar Ra’du 11 cukup jelas dikemukakan, bahawa keadaan mereka yang tertindas dan miskin tetap akan tertindas dan miskin, bila mereka sendiri tidak bangkit melemparkan belenggu yang dililitkan kaum penindas atas leher mereka. Usaha kaum atau perjuangan kelas dari kaum tertindas sendirilah yang menentukan terjadinya perubahan. Imbauan berperang untuk membebaskan orang-orang yang teraniaya dari surat Annisa 75 dan Al Hajj 39. Hadith Nabi Muhammad s.a.w juga mengatakan:

Bila engkau melihat kemungkaran ubahlah dengan tangan (kekuatan, kekerasan), dan bila tidak mampu, ubahlah dengan lidah (kritik, nasehat) dan bila tidak mampu juga, ubahlah dalam hati dan itulah selemah-lemahnya iman. Bagi yang imannya kuat, kemungkaran harus diubah dengan tangan. “

Dengan mengemukakan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran di atas, mereka kemudian mendakwa bahawa Islam dengan jelas memerangi kapitalisme, Islam hendak menegakkan sosialisme, dan Islam bertujuan untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Dan untuk memenangkan perjuangan mengalahkan kapitalisme, memenangkan sosialisme dan kemudian terwujudnya masyarakat tanpa kelas, Islam memberikan petunjuk harus dengan melalui perjuangan kelas. Semuanya itu menunjukkan terdapatnya titik persamaan antara Islam dan komunisme. Memang istilahnya tentu tidak sama.

Misalnya komunisme menyebut yang diperanginya “kapitalisme”, Islam memakai istilah ‘mengutuk orang-orang yang menumpuk harta”; komunisme memakai istilah “sosialisme” yang hendak ditegakkan, Islam mengatakan ‘menjadikan kaum tertindas menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi”.

Komunisme menyatakan tujuan tujuannya yang terakhir terbentuknya “masyarakat komunis”, “masyarakat tanpa kelas”, Islam memakai “masyarakat Tauhidik”.

Komunisme memakai istilah “perjuangan kelas”, Islam memakai istilah “usaha kaum”.

Usaha” itu adalah “perjuangan”, “kaum”, itu adalah “golongan” atau “kelas”. Dikatakan mereka bahwa tentang terdapatnya perbezaan antara Islam dan Komunisme tentu tak akan ada yang menyangkal. Islam mempermasalahkan kehidupan di dunia dan akhirat, sedang Komunisme hanya mempermasalahkan masalah kehidupan manusia di dunia, bagaimana supaya tegak keadilan. Masalah akhirat, tidak dipermasalahkan komunisme. Masalah akhirat, adalah masalah peribadi, masalah hubungannya dengan yang menciptakannya.

Islam Agama yang Fitrah

Mengenai sosialisme ini, Yusuf Qorodhowi dalam bukunya Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an dan Sunnah (Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh) menyebutkan 3 hal sebagai berikut.


1. Sistem ekonomi Sosialis menghilangkan pemilikan individu dan kebebasannya dan menganggap semua kekayaan itu sebagai perisai pemerintahan.

Prinsip ini sangat diagung-agungkan oleh masyarakat sebagai perwakilan dari negara. Individu dalam sistem ini tidak berhak memiliki tanah, fabrik pekarangan atau yang lainnya dari sarana produksi, tetapi ia wajib bekerja sebagai karyawan pemerintah sebagai pemilik segala sumber produksi dan yang berhak mengoperasikannya.

Pemerintah juga melarang seseorang untuk memiliki modal harta meskipun melalui prosedur yang halal. Adapun dalam Islam kita mengetahui bahwa dia menghargai hak milik pribadi, karena itu termasuk konsekuensi fitrah dan termasuk bahagian dari kebebasan (kemerdekaan).

Bahkan termasuk sifat dasar kemanusiaan, karena hak milik peribadi itu merupakan motivasi yang paling kuat untuk merangsang produktivitas dan meningkatkannya. Islam tidak membedakan antara sarana produksi dan yang lainnya, tidak pula membezakan antara pemilikan besar atau kecil, selama ia memperolehnya dengan cara yang sah menurut syari’at.


2.
Faham sosialisme-Marxisme tegak di atas perang antar golongan (perjuangan kelas) dengan mempergunakan sarana kekerasan yang penuh pertumpahan darah.

Sehingga pada akhirya seluruh golongan itu hancur, kecuali satu golongan yaitu kaum “Proletariat” termasuk di dalamnya kaum buruh rakyat kecil. Padahal yang sebenarnya menang bukanlah dari kalangan buruh, tetapi sekelompok manusia yang bekerja di parti dan tentera yang berkuasa atas nama golongan buruh di segala bidang dan melarang sebagian besar penduduk dari segala sesuatu. Oleh karena itu akhir penjelasan dari Karl Marx adalah: “Wahai kaum buruh sedunia bersatulah!”

Adapun Islam, aturan dan falsafahnya tegak di atas persaudaraan antara manusia dan menganggap mereka semuanya satu keluarga dan memperbaiki hubungan di antara mereka apabila terjadi ketidakberesan. Islam menganggap hal itu lebih mulia daripada shalat atau puasa sunnah. Maka jelaslah perbezaan antara orang yang mengajak para buruh untuk bersatu melawan yang lainnya dengan orang yang mengajak manusia seluruhnya untuk bersaudara dan menjalin cinta kasih sesama mereka.

Nabi SAW bersabda:

Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Ahmad dan Muslim)


3. Faham Sosialis Marxis selalu diliputi oleh tekanan politik, dan ketakutan pemikiran serta berbagai pelarangan terhadap kebebasan.

Mereka menyembunyikan aspirasi kelompok-kelompok yang menentang sistem dan menuduh setiap kelompok pembangkan sebagai sikap primitif, kontra revolusi, pengkhianat atau dengan tuduhan yang lainnya. Sama saja sejak masa “Lenin” sampai hari ini. Dan Lenin pernah menulis kepada salah seorang sahabatnya, ia mengatakan:

Sesungguhnya tidak mengapa membunuh tiga perempat penduduk dunia agar sisanya seperempat menjadi Sosialis.”

Adapun Islam itu tegak di atas dasar musyawarah, dan menjadikan nasihat pemerintah itu termasuk inti ajarannya, dan mendidik masyarakat untuk menyelamatkan orang yang berbuat kejahatan dengan lembut dan beramar ma’ruf nahi munkar serta memperingatkan ummat apabila melihat orang yang zhalim, kemudian bila mereka tidak memegang kedua tangannya (mencegahnya) maka Allah akan menyegerakan siksa untuk mereka dari sisi-Nya.

Muhammad Qutb ketika menjawab pertanyaan mengapa dunia memerlukan Islam sekarang ini, menuliskan sebagai-berikut: Pertama bahawa Islam bukanlah semata-mata ideologi teori, tetapi ia merupakan sebuah sistem praktis yang mengapresiasi kebutuhan asasi manusia dan berusaha merealisasikannya.

Kemudian, di dalam upayanya memenuhi kebutuhan manusia ini, Islam berusaha mencapai keseimbangan dalam berbagai aspek aktiviti kehidupan. Ini dimulai dari keseimbangan individu antara jasad dan jiwanya. Juga keseimbangan antara kebutuhan individu dengan kebutuhan komuniti. Islam tidak membolehkan kedzholiman individu terhadap individu lainnya atau terhadap komunitas. Begitu juga Islam tidak membolehkan komuniti untuk mendzholimi individu. Juga harus diingat bahawa keberadaan Islam adalah terpisah dari ideologi-ideologi lain baik sebagai falsafah sosial mahupun sebuah sistem ekonomi.

Beberapa tampilan Islam mungkin memang serupa dengan kapitalisme atau sosialisme, tetapi sebenarnya sangat berbeda dari keduanya. Islam dapat dikatakan mempertahankan hal-hal yang baik dari sistem-sistem ini, tetapi terbebas dari berbagai kelemahan yang dimilikinya. Islam menjamin kebebasan personal dan menyediakan kesempatan untuk berkembangnya enterprise individu, tanpa mengorbankan masyarakat atau keadilan sosial.

Selanjutnya beliau menyebutkan bahwa Islam berada di antara (keseimbangan) dua ekstrim: kapitalisme dan sosialisme. Islam sangat menghargai baik peranan individu mahupun peranan negara dan mengharmonikan keduanya sedemikian sehingga seorang individu mempunyai kebebasan yang sangat diperlukannya untuk mengembangkan potensinya, tetapi juga memberikan kekuasaan kepada masyarakat dan negara untuk mengatur dan mengkontrol hubungan sosio-ekonomi untuk menjaga dan memelihara keharmonisan kehidupan manusia. Juga Muhammad Qutb menegaskan bahwa sistem Islam yang unik ini tidak lahir sebagai reaksi terhadap sebuah tekanan ekonomi, juga bukan merupakan hasil kompromi berbagai kepentingan yang berbeda.

V. PENUTUP

Tulisan ini ditutup dengan suatu ucapan yang sering disampaikan orang dalam mengamati gejala sosialisme ini. Ucapan ini memang bukan ucapan ilmiah karena tidak jelas siapa yang pertama kali mengatakannya, tetapi patut untuk kita renungkan:


Apabila seorang anak muda tidak tertarik dengan sosialisme, maka berarti ia kurang pergaulan dan kurang wawasan. Tetapi apabila ketika menjadi tua, ia masih saja mengagumi sosialisme, maka berarti pemikirannya tidak berkembang.”

Wallahu a’lam bis shawab

One thought on “Sosialisme dan Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s