Kegagalan Kapitalisme

KAPITALISME; GAGAL MENCIPTAKAN KESEJAHTERAAN

Hidup sejatera merupakan dambaan setiap umat manusia. Sebab, tujuan hidup di dunia adalah mendapatkan kebahagiaan hidup. Lalu, dibuatlah paradigma dan ukuran kesejahteraan berikut policy, taktik, dan cara untuk meraihnya.

Pandangan tehadap kesejahteraan termasuk pula cara untuk meraihnya sangat tergantung dari sudut pandang manusia terhadap kehidupan ini. Ide kapitalisme dan sosialisme –suatu idiologi yg bercorak materialistic- menempatkan capaian materi sebagai unsusr mendasar bagi kebahagiaan. Keduanya juga memformulasikan strategi untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Sosialisme terbukti gagal menciptakan kesejahteraan. “Masyarakat equal” tanpa kelas tidak pernah di wujudkan dalam tataran empiric. Produksi menurun sangat tajam, pertumbuhan ekonomi sangat kecil, lahirlah manusia2 mesin yg menuhankan materi serta kelas2 sosialis yg semakin menjauhkan masyarakat dari ide masyarakatnya. Kegagalan ini semakin jelas, setelah rakyatnya meruntuhkan rejim sosialis di Rusia –sebagai representative dari kekuatan sosialisme-. Meski demikian, remah2 pemikiran sosialis masih berceceran dan diadopsi oleh beberapa Negara komunis.

Disisi lain, kapitalisme sebagai penyangga system dunia juga terbukti gagal menciptakan kesejahteraan manusia. Bahkan, idiologi ini telah menyeret manusia pada kehancuran2 yg lebih mengerikan lagi. Kebobrokan system kapetalisme, baik pada system hokum maupun pemerintahan, system ekonomi, system pendidikan, dan kesehatan telah nyata2 terpampang didepan mata kita.

FAKTA GAGALNYA SISTEM KAPITALISME

Kapitalisme : Sistem Pemerintahan dan Hukum

  1. Nasionalisme

Nasionalisme terbukit gagal dn sudah tidak relevan lagi untuk membangun peradaban masa depan. Sebagaimana dikutip dari Kalim Shiddiqui; paham nasionalisme dinyatakan sebagai paham yg menuntut adanya kesetiaan kepada bangsanya melebihi segalanya. Menurut Sadar, nasionalisme merupakan indicator destrukrif bagi peradaban masa depan manusia. Paham ini telah berimplikasi buruk bagi umat manusia; (1) meningkatnya jumlah Negara yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengesampingkan bahkan cenderung mengorbankan kepentingan pihak lain; (2) munculnya rasialisme yg bersifat missal; (3) nasionalisme telah memecah belah umat manusia, bahkan menutup trend dunia global yg saling menopang dan mendukung. Beberapa data dilapangan menunjukan; sejak perang dunia II 20 juta jiwa hilang karena konflik2 yg berdimensi nasionalistik.

Biaya2 ekonomi tidak perlu, timpangnya distribusi, dan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia merupakan konsekuensi logis dari paham nasionalisme. Arus barang2 dan manusia tidak bisa masuk dengan mudah disebuah Negara akibat pemberlakuan tariff cukai yg sangat tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia akan berjalan dengan lebih baik seandainya tarif2 dan hambatan2 semacam itu bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Terbentuknya MEE merupakan contoh gambling betapa dengan diruntuhkannya arogansi nasionalistik telah memacu pertumbuhan ekonomi yg luar biasa di negara2 tersebut.

Kecenderungan global juga memperlihatkan bahwa nasionalisme sudah tidak relevan lagi bagi peradaban manusia. Saat ini diperlukan suatu system dunia yg saling menopang dan mendukung.

  1. Sistem Pemerintahan Demokratik

System pemerintahan demokratik menempatkan rakyat sabagai pihak yg berdaulat juga telah menimbulkan nestapa modern. Diadopsinya system pemerintahan demokrasi –yg berimplikasi logis pada sekulerisme- telah menimbulkan apa yg disebut oleh pakar2 barat dengan ungkapan beragam namun bermakna sama. A Sorikin menyebut dengan The Crisis of Our Age. Sayyed Hossen Nasser menyebut abad sekarang dengan istilah “nestapa manusia modern”, Gustave juga mengomentari peradaban sekarang ini dengan “Gersang Psikologis” dan Peter Berger menyatakan bahwa masyarakat kapitalistik selalu bercorak sekuleristik. Sedangkan masyarakat sekuleristik cenderung akan memarginalkan peran agama, bahkan ada kecenderungan untuk mereduksi agam menjadi subsistem yg tidak lagi berarti.

Pembagian kekuasaan2 –dengan alasan meningkatkan otoritarianisme- terbukti telah menimbulkan dualisme kepemimpinan serta kaburnya batas wewenang masing2 lembaga Negara. Padahal dengan adanya dualisme kepemimpinan akan menimbulkan kontraksi2 kekuasaan yg berakibat pd konflik elit politik dan selanjutnya akan berbuntut pada dikorbankannya kepentingan2 publik dan terabaikannya urusan rakyat.

  1. Sistem Ekonomi

Capaian yg dihasilkan oleh system ekonomi kapitalis tampak pada penjelasan O.Henry dalam Supply and Demand,…”bencana melanda bumi dengan penumpukan kekayaan demikian cepat, namun tidak memberikan timbale balik apapun…”. Produksi -yg dianggap oleh kaum kapitalis sebagai inti permasalahan ekonomi_ meningkat cukup signifikan. Namun, disisi lain kesenjangan ekonomi dan mandegnya distribusi barang dan jasa merupakan problem yg belum bisa dipecahkan oleh system ekonomi kapitalis.

Munculnya konglomerasi serta perusahaan2 individu yg menguasai aset2 publik semakin memperlebar jurang kemiskinan antara si kaya dan si miskin. Dalam tataran dunia, ekonomi kapitalis telah menciptakan kesenjangan perekonomian yg begitu tinggi. Kecenderungan ini siap meledak menjadi revolusi yg sangat dahsyat.


-Golongan kapitalis tidak kenal anda ‘siapa’, tetapi kenal anda ‘apa’.-

One thought on “Kegagalan Kapitalisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s